Perspektif Wimar
10 April 2008

Syahrir: Pemerintah Telah Berkorban Dengan Mencalonkan Boediono
Ngomongin masalah ekonomi emang nggak ada habisnya. Mulai dari ribut soal Gubernur BI sampai krisis ketahanan pangan. Perspektif Wimar edisi ini mencoba menghadirkan perspektif dari sudut pandang anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Dr. Syahrir yang kali ini ditemani Agni Pratista sebagai co host. Masalah pencalonan Gubernur BI menjadi topik pembuka kali ini. Menurut Syahrir, dengan pencalonan Boediono sebagai Gubernur BI, sebenarnya pemerintah telah berkorban besar. Karena Boediono sangat dibutuhkan di kabinet. (iya pak, tapi juga sangat dibutuhkan oleh bank sentral). Berlarutnya pencalonan yang belum pernah tejadi sebelumnya ini , dikarenakan sekarang kita menghadapi situasi baru dimana parlemen begitu kuatnya.
Mengenai perannya sebagai penasehat presiden bidang ekonomi , Doktor lulusan Harvard University ini bercerita tentang peran lembaganya yang bukan seperti DPA di masa lalu. Wantimpres adalah bagian dari eksekutif yang memberikan policy insiative dan rekomendasi hanya untuk presiden. ”Jadi pekerjaannya sangat konkret”, ujarnya. Bagus dong pak biar nggak kaya DPA yang jadi ’macan ompong’ selama orde baru, karena presidenya tidak mau dinasihatin.
Meskipun begitu peran anggota wantimpres di bidang komunkasi publik juga terbatas. Misalnya tidak boleh datang ke DPR mewakili presiden/pemerintah dan juga tidak boleh mengkomunikasikan kepada publik apa isi pertimbangan kepada presiden atau kebijakan presiden yang tdak disetujui.
WW juga bertanya tentang krisis pangan dunia yang menurut Dr. H.S Dillon disebabkan karena kurangnya keberpihakan. Syahrir berpendapat bahwa krisis pangan juga disebabkan oleh perubahan energi alternatif (seperti ethanol, singkong, kelapa sawit dll) yang berpengaruh terhadap produk pangan. Jadi orang akan semakin banyak mencari energi altrnatif dari bahan komoditi pangan, yang membuat harga komoditi tersebut bisa terus merangkak naik.

Memang jadi serba sulit, kalau pakai bahan bakar fosil takutnya cepat habis dan menimbulkan efek buruk pada lingkungan. Sementara enregi alternatif bisa berpengaruh pada mahal dan makin langkanya produk pangan. ”jangan sampai kita ada listrik, tapi nggak ada makanan”, ujar WW.( http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=838)
Foto by http://www.perspektif.net
Dr Sjahrir tamui yang baik, narasumber top, dan teman yang ramah. Thanks fro coming, sukses untuk anda dan perjuangan anda
Thx Wimar atas kunjungannya ke blog saya. Sukses selalu!
Selamat hadir kembali bung Wimar di layar kaca, sukses ya tapi maaf saya bakal tidak dapat nonton soalnya dalam perjalanan ke tmpt kerja he he he
Ada ga solusi terbaik dan tercepat untuk memajukan ekonomi?
solusi terbaik dan tercepat untuk memajukan ekonomi???
dengan kondisi saat ini???
kok kyknya gk ada ya?
tapi mungkin, perang bisa menjadi salah satu solusi.. hehe
mungkin usulan perang bukan lah usulan yang tepat, itu sama saja menjadi pengikut Bush saja…apa kita mau begitu?
saya rasa SBY harusnya pekerjakan saja orang2 yang memang betul2 kompeten di bidangnya. ahli ekonom yang memang benar2 mempunyai pengetahuan, wawasan yang tinggi untuk memperbaiki ekonomi. Serta mempunyai dedikasi yang tinggi buat memajukan kesejahteraan rakyat, bukan hanya cari kedudukan!
Numpang komentar:
“Wantimpres adalah bagian dari eksekutif yang memberikan policy insiative dan rekomendasi hanya untuk presiden. ”Jadi pekerjaannya sangat konkret”, ujarnya. Bagus dong pak biar nggak kaya DPA yang jadi ’macan ompong’ selama orde baru, karena presidenya tidak mau dinasihatin.”
Komentar: Karena selama ini tidak pernah dipublikasikan seperti apa bentuk kerja dan seberapa efektif peran wantimpres terhadap keputusan yg diambil oleh presiden, sepertinya tidak apple to apple membandingkan dgn DPA pada jaman pemerintahan yang otoriter. Bisa jadi yg terjadi skrg, memang Presiden lebih mau dinasehatin, tapi kenyataannya selalu ragu dan payah dalam pelaksanaan.
Kalau begini terus bisa jadi akan terjadi situasi yang membuat judul posting ini terbalik:
“Ekonomi Oke Tapi Presiden Tetap Payah”
Maaf apabila komentar saya kurang berkenan. Alam demokrasi ini masih terbuka ruang untuk beropini dan menyampaikan kritik.
Untuk Alisyah, Letjes, Krisna dan Gaffari.
Dalam upaya untuk mempercepat ekonomi, memang tidak bisa sekaligus tercepat. Kalau dia terbaik pasti harus ada yang dikorbankan, kalau dia mau tercepat pasti tidak yang terbaik. Jadi karena itu kalau saya ditanya apakah solusi terbaik dan tercepat, maka jawaban saya maunya yang mana, terbaik atau tercepat? Tidak bisa dua-duanya. Kan kita tahu, dalam ekonomi ada yang sering disebut trade off.
Nah, yang terbaik menurut saya adalah pengaman daripada pangan kita. Pengamanan pangan ini misalnya kalo saya berpendapat, buat apa kita ekspor beras? Karena negara-negara pengekspor beras pun sedang melakukan restruksi ekspor karena kenaikan harga beras di dunia. Saya lebih suka memperkuat cadangan beras. Itu satu contoh. Nah, tentu itu tidak cepat, karena dilihat harga beras sekarang kan sangat menguntungkan untuk diekspor sehingga dapat devisa, sementara kita tahu harga akan naik terus. Saya berpendapat lebih kita tidak dulu mengekspor beras. Saya sadar, bahwa ekspor dan impor itu menyenangkan karena ada importir dan eksportir yang kemudian diuntungkan.
Barangkali inilah kita harus kembali kepada hal-hal yang dikenal dulu. Misalnya rumus tani, rumus antara harga beras dan harga pupuk yang ideal untuk para petani. dan juga ada faktor lain apakah petani itu adalah seorang yang secara netto mengkonsumsi atau memproduksi beras. Artinya begini, kalau dia nett consumer, berati produksi dia dibandingkan dengan konsumsi keluarga memakan beras dan nasi, itu lebih banyak konsumsi. Nah itu tentu ada perbedaan apakah harga beras harus tinggi atau rendah. Nah inilah saya minta untuk teman Alisyah, Letjes dan Krisna, untuk memahami. Tetapi kalo soal perang, ya Allah ngapain sih kita harus berperang?
Trade Off
Itu kata kunci memang. Tulah kata orang jawa. Karma kata orang India (kalee…).
Ada analogi buah simalakama …. gambaran trade off yang pas di budaya melayu, tapi pilihannya bukan soal ada yang mati apa nggak heheheh …..
Pintar-pintar kita dalam memilih langkah penyelesaian suatu masalah yang kompleks.
Kompleks
Kata kunci yang kedua. Negara Indonesia adalah entitas yang kompleks. Kalau pake analogi di dunia hewan negara indonesia seperti halnya rumah rayap yang jumlah agregat dari keseluruhan individunya sudah ada pada tingkatan SWARM.
Swarm alias udah gak kehitung, sak ho hah kata orang jawa, uniknya, masih mengutip pelajaran dari film dokumenternya Ngkong David Attenborough di BBC, behaviour di tingkatan swarm, agregat dari “masyarakat” rayap, memunculkan logika-logika yang sangat berbeda dari logika yang terjadi di tingkatan individual. Apakah rayap-rayap pekerja itu pernah berpikir bahwa kegiatan mereka sehari-hari akan bisa menghasilkan rumah rayap yang model arsitekturnya setaraf dengan arsitektur geometri mutakhir. Rayap-rayap kecil itu ya gak tahu apa-apa mereka lanjutin hidup aja tanpa perlu pusing ntar mau jadi apa.
Maknanya ….
Pemahaman orang awam atas penyelesaian sebuah permasalah yang ada pada level “kenegaraan” atau level agregat …. sesungguhnya belum lah cukup tanpa belajar terlebih dahulu behavior Indonesia pada level Nation Building.
Jadi orang kayak saya, gak perlu pusing apakah inflasi mau naik satu atau dua digit. Setaraf menko perekonomian atau penasehat presidenlah yang musti mikir. Karena saya yakin orang-orang yang mengerti sebuah ilmu kompleks ekonomi makro atau mikro ini lah yang akan menentukan mau jadi apa Indonesia di masa depan.
Yang penting buat orang yang setaraf dengan rayap pekerja seperti saya adalah, sandang pangan cukup, rumah walau ngontrak juga tersedia, bisa mudah cari pasangan, dapat pendidikan, dan mungkin kemudahan dalam aktivitas sehari-hari, jalan, kendaraan, fasilitas publik.
Jika yang sederhana buat orang biasa bisa terpenuhi saya pikir entitas besar kompleks seperti INDONESIA ini akan “keminclong” di masa depan.
Hallo Pak Syahrir,
saya baru tahu kalo bapak ternyata punya blog juga, semoga semakin berkembang ya pak!
oh iya, sedikit keluar dari konteks, kira-kira bapak lebih suka mana berjuang dari luar pemerintahan (aktivis) atau duduk dalam kursi pemerintahan seperti sekarang?
kalau soal kesejahteraan mungkin yang sekarang lebih mencukupi ya pak?
Lalu bagaimana anda sekarang melihat pemerintahan yang ada sekarang? apa memang sebobrok yang sering dinyanyikan aktivis?
Bung Syahrir, senang melihat anda kembali di layar kaca pada acara bung Wimar! Teruskan perjuangan anda..
Untuk Moritzko, senang berbicara kembali walaupun dalam dunia maya dengan anda. Mudah-mudahan keluarga sejahtera dan sukseslah anda dalam karier anda sekarang. Saya yakin dengan kapasitas anda yang begitu tampak penuh imajinasi anda pasti akan berhasil.
Untuk Suyatno, kalau dikatakan bahwa saya lebih suka berjuang di dalam atau di luar pemerintahan itu terlihat dalam konteks. Kalau saya lihat pemerintahan ini sudah tidak lagi dapat saya pertahankan dari sisi nurani saya, saya keluar. Tapi kalau saya beranggapan masih bisa saya pertahankan, maka saya masih akan tetap bertahan.
Tapi, kalau untuk kesejahteraan, maaf saja, sekarang malah lebih merosot. Walaupun saya mendapat penghasilan yang katanya setingkat dengan menteri, tapi saya sekarang tidak boleh “ngamen” lagi. Padahal kalau saya seminar, walaupun harga saya tidak semahal Maia atau Mulan tapi cukup berarti loh…
Terimakasih Ikhsan, tapi soal tampil di layar kaca atau tidak ini tergantung pada permintaan dan penawaran. Kebetulan, permintaan datang dari Wimar.
Bung, bicara pangan, bicara kelaparan juga lho. Kasusnya sekarang tak boleh dianggap enteng. Sedikitnya, kurang gizi atawa lemah mental & moral anak bangsa yang ternyata suka korupsi dan saenak dewe kalo udah kuasa. Gak bisa pindah ngomong ke energi gitu, kok. Policy initiative anda ditunggu. Jangan sampe berhenti ketika duduk di Wantimpres. Anda kan pernah dekat ama Peter Timmer, misalnya. Kepakaran dia kan banyak jadi acuan pada masa Orba, yang dianggap berhasil di sektor pertanian. Kaitannya, boleh2 saja mengacu pada swasembada pangan, dengan harga pagu dan alternatif pangan usulannya.
Betul sekali kata anda bahwa kalau kita melihat masalah yang ada sekarang, yang terberat itu adalah akibat kepada kaum miskin. Saya pernah bercakap-cakap dengan kepala BPS dan menyebut kepala BPS itu bahwa jumlah bantuan subsidi yang diberikan oleh APBN sudah begitu besar, tetapi tetap saja orang miskin banyak. Berarti memang ada masalah policy appraisal yang haruis dilakukan.
Nah dalam hal ini, selama saya masih berada di Wantimpres saya terus menerus mengajukan policy appraisal, policy evaluation maupun policy proposal kepada presiden. Tetapi jangan lupa bung, tugas saya di wantimpres ini hanyalah memberi nasihat baik diminta atau tidak diminta. Pada akhirnya keputusan tetap pada presiden.
Saya juga berkomunikasi dengan Peter Timmer dan juga orang-orang yang mengenal dekat dengan dia. Saya juga terus menerus mendapat masukan yang coba saya salurkan kepada presiden. Karena itulah satu-satunya nama dimana saya punya hubungan pekerjaan. Sekali lagi, terima kasih atas usulnya.