<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Syahrir</title>
	<atom:link href="http://catatansyahrir.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://catatansyahrir.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 Aug 2008 15:39:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='catatansyahrir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Syahrir</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://catatansyahrir.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Syahrir" />
	<atom:link rel='hub' href='http://catatansyahrir.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sjahrir (obituari)</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/08/06/sjahrir-obituari/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/08/06/sjahrir-obituari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 15:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Sjahrir adalah sebuah pesta. Karena itu ia penuh warna. Dalam pesta, orang bergerak dari satu orang ke orang lain, dari tempat duduk ke lantai dansa, dari satu obrolan ke obrolan lain. Pesta adalah persinggungan dengan pelbagai titik. Mungkin itu sebabnya Sjahrir punya sederet atribut : ekonom, dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), aktivis, pelaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=47&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sjahrir adalah sebuah pesta. Karena itu ia penuh warna. Dalam pesta, orang bergerak dari satu orang ke orang lain, dari tempat duduk ke lantai dansa, dari satu obrolan ke obrolan lain. Pesta adalah persinggungan dengan pelbagai titik. Mungkin itu sebabnya Sjahrir punya sederet atribut : ekonom, dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), aktivis, pelaku pasar modal, pemimpin partai, penasehat ekonomi Presiden – dan mungkin juga seorang selebritis. Pesta dan titik singgung itu tak lagi disana. Salah satu ekonom terbaik Indonesia itu meninggal dunia dalam usia 63 tahun pada tanggal 28 Juli 2008. Apa yang harus dikenang dari Sjahrir yang lahir di Kudus 24 Februari 1945 ?</p>
<p>Bagi saya, Sjahrir &#8211;kawan, kakak dan guru saya&#8211; adalah sebuah inspirasi, sebuah kontroversi dan sekaligus sederet pertanyaan. Pertanyaan pertama yang muncul: bagaimana seorang yang menulis disertasi tentang kebutuhan pokok, dapat begitu tangkas bicara membela pasar bebas. Mereka yang terpasung dan menggemari kategorisasi atau kiri atau kanan, atau sosialis atau liberal akan kesulitan untuk menjawabnya.<br />
<span id="more-47"></span><br />
Jika kita membaca lagi disertasi, yang ditulisnya dibawah bimbingan ekonom terkenal Prof. Peter Timmer, di Harvard University, Sjahrir menulis bahwa yang dibutuhkan untuk membantu rakyat miskin adalah pendekatan pemerintah (perdefinisi kebijakan negara) untuk mempengaruhi alokasi sumber daya melalui pasar atau institusi lain, sehingga dapat terpenuhinya konsumsi minimum dan pelayanan strategis seperti pendidikan dan kesehatan. Disini Sjahrir bicara soal infrastruktur. Ia sudah bicara soal itu di pertengahan tahun 1980 an. Saya kira pengalamannya sebagai aktivis berpengaruh besar dalam disertasi ini. Ia menunjukkan bagaimana tekanan oposisi dan gerakan mahasiswa yang mencapai kulminasi pada peristiwa Malari, tahun 1974 – yang membawanya mendekam di penjara&#8211; telah memaksa pemerintah waktu itu untuk mengubah orientasi pembangunan kepada upaya pemenuhan kebutuhan pokok.</p>
<p>Tetapi disisi lain, jika kita membaca uraian-uraiannya di buku “Kebijaksanaan Negara” dan pelbagai media masa dan juga bicaranya di pelbagai seminar, maka Sjahrir, yang menamatkan Sarjana Ekonomi nya dari FEUI, adalah sosok, yang dengan keyakinan seorang Friedmanian, bicara tentang ‘betapa berbahayanya’ distorsi yang diakibatkan oleh intervensi pemerintah dalam pasar. Dengan cepat kita bisa menangkap pelbagai ‘warna’ disini. Jika saja kita bisa mengidentifikasi Sjahrir dalam label “atau neo-klasik atau neo-marxis”, penjelasan tak akan seruwet ini.</p>
<p>Sikap ogah negara sebenarnya bukan hal yang baru. Albert Hirschman dalam bukunya Essay in trespassing : economics to politics and beyond, menulis tentang ‘persekutuan yang aneh’ atau ‘persekutuan yang tak suci’ antara pemikiran ekonomi neo-klasik dan ekonomi neo-marxis. Bagi neo-klasik, negara merintangi kekuatan pasar untuk bekerja, dan bagi neo-marxis negara dianggap sebagai sekutu perusahaan multinasional dan modal lokal atau kaum komprador. Keduanya sangat kritis terhadap peranan negara atau pemerintah. Tapi persoalannya menjadi lain, karena Sjahrir bukan seorang neo-klasik, apalagi seorang neo-marxis. Ia amat pro pasar, tetapi ide ‘kebutuhan pokok’ nya justru melihat perlunya peran negara. Itulah sebabnya Sjahrir tetap ‘tak terjelaskan’.</p>
<p>Satu-satunya penjelasan yang paling dekat kepada kontradiksi ini sebenarnya adalah pemikiran Amartya Sen, pemenang nobel ekonomi 1998. Sen memang memiliki posisi yang sangat unik. Ia mencoba menjembatani peseteruan teoritis antara John Rawls dan Robert Nozick. Sen mengatakan bahwa kemiskinan harus dipandang dalam konsep kapabilitas. Kapabilitas merefleksikan kebebasan yang memungkinkan orang untuk menjalankan pelbagai fungsi dalam hidupnya (functionings). Orang menjadi miskin karena ruang kapabilitas mereka kecil, bukan karena mereka tidak memiliki barang. Dengan kata lain orang menjadi miskin karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu, bukan karena mereka tidak memiliki sesuatu. Implikasinya: kesejahteraan tercipta bukan karena barang yang kita miliki, tetapi karena aktifitas yang memungkinkan kita memiliki barang tersebut. Itu sebabnya peran dari kebebasan menjadi begitu penting. Kebebasan adalah syarat utama dari dimungkinkannnya sebuah tindakan untuk memiliki sesuatu. Mungkin itu sebabnya, Sjahrir begitu memuja Sen. Barangkali, sadar atau tak sadar, ia menemukan pembenaran posisinya lewat argumen teoritik yang diajukan oleh Amartya Sen.</p>
<p>Dari Sjahrir lah saya mengenal pemikiran Sen. Saya waktu itu mahasiswanya di kelas Perekonomian Indonesia di FEUI. Bagi banyak mahasiswa, termasuk saya, ia begitu bergelora, begitu mempesona. Kuliahnya mirip orasi dengan retorika yang menyengat. Saya ingat, bagaimana ia mengkritik kebijakan pemerintah soal monpoli cengkeh BPPC &#8211;yang menurutnya—menghina otak kita. Bagi mereka yang membutuhkan amunisi untuk gerakan mahasiwa waktu itu, Sjahrir adalah sebuah inspirasi. Setahun kemudian, bersama Mohamad Ikhsan, saya menjadi asistennya di mata kuliah itu. Dari sana diskusi mengenai Sen, kebutuhan pokok dan mekanisme pasar berlanjut. Mengherankan sebenarnya, karena waktu itu saya hanyalah mahasiswa tahun terakhir, yang belum lagi genap menyelesaikan skripsi, sedang Bang Ciil – begitu saya biasa memanggilnya— sudah menjadi salah satu ekonom paling baik di Indonesia. Tak ada jarak, tak soal rentang usia, kita duduk bersama mendiskusikan gagasan dan berdebat. Sjahrir memang tak mengenal senior-junior. Ia memperlakukan orang sebagai teman, karena ia tak pusing dengan struktur hirarki yang memasung. Saya sulit membayangkan, seorang dosen senior, ekonom kelas satu, datang ke rumah menjemput asistennya untuk berangkat ke kampus bersama! Jam 6.30 pagi hari Rabu, Sjahrir dengan tak sabar menunggu didepan rumah saya. Saya sering bangun terlambat dan bergegas lari keluar rumah. Tegurannya khas, tajam &#8211;agak tak sabar&#8211; tapi bersahabat” Gue heran sama lu De, susah banget bangun pagi! Lu nggak sempet makan kan? Ntar kita cari makan.” Bang Ciil memang pribadi yang hangat, cerdas dan kocak.</p>
<p>Ia tak pernah tersinggung bila dilingkungan terdekatnya di olok-olok soal postur tubuhnya. Seorang teman mengatakan alasan Ciil jarang mengetik dengan komputer adalah karena jarinya lebih besar dari tuts nya. Ia akan tertawa renyah mendengar ini. Saya juga tak akan lupa, ketika peristiwa Semanggi II, bersama beberapa kawan, kita berada di Universitas Atmajaya, kita berlari menghindari peluru karet yang ditembakkan aparat. Sjahrir juga ikut berlari. Didepan, tembok pagar menghadang, Sjahrir diangkat bersama-sama keatas pagar, ia melompat dan jatuh masuk selokan yang kotor!</p>
<p>Sjahrir memang sebuah pesta. Ia penuh warna. Ia punya berbagai atribut. Sjahrir pernah menjadi pelaku pasar modal, ekonom sekaligus juga seorang aktivis. Mungkin hanya Sjahrir sendiri yang bisa menjelaskan tentang posisi ini. Tetapi jika kita ingin melihatnya dalam konteks pemikiran ekonominya, maka disini sebenarnya terlihat kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Sebenarnya menjadi ekonom dan sekaligus pelaku pasar modal bukanlah cerita baru. Keynes dan David Richardo adalah seorang ekonom sekaligus pedagang surat berharga. Karena posisi ini pula –lewat Richardo&#8211; ekonomi menjadi in dikalangan kaum borjuasi. Bila sebelumya di salon-salon di Inggris dibicarakan tentang drama Shakespeare atau sonata nya Purcell, maka konon karena Richardo kelompok borjuasi bicara tentang penggunaan modal dan pembentukan harga. Sjahrir sendiri pernah memilih untuk mengambil dua posisi sekaligus : pelaku pasar modal dan ekonom. Keunggulannya : ia tentu saja mampu menghubungkan sesuatu yang kerap disebutnya “macro-micro lingkange”. Tetapi harga yang harus dibayarnya adalah kita tak menemukan lagi karya akademis yang ketat, seperti disertasi Ph.D nya.</p>
<p>Ketika krisis ekonomi terjadi, saya kira Sjahrir cukup jujur dengan pelbagai keterbatasan penjelasan ekonomi saat ini. Praktis memang belum ada satu ekonom pun yang dengan sempurna dapat memberikan resep untuk menjawab krisis ekonomi saat itu. Penjelasan yang ada sekarang pun, saya kira bersifat post factum. Ia seolah benar, karena menjelaskan setelah kejadian. Saya kira Sjahrir benar, kita memang butuh ruang untuk kontemplasi.</p>
<p>Minat dan energinya didalam politik amat kental. Ada sebuah tulisannya di Harian Neraca yang kalau tak salah berjudul ‘Yang ada dan yang tiada’, dengan nada getir dan masygul ia menulis – saya kutip dari ingatan—“yang ada kini legalitas dan konstitusi. Yang hilang adalah legitimasi. Yang ada sekarang adalah kabinet reformasi, tapi kita kehilangan pelaksanaan reformasi….” Lalu ia mengatakan: daripada mengutuk kegelapan, lebih baik mulai menyalakan lilin. Mungkin karena itulah ia memutuskan untuk mendirikan Perhimpunan Indonesia Baru yang kemudian membidani lahirnya Partai Perhimpunan Indonesia Baru.<br />
Sjahrir memang sebuah pesta dengan beragam warna, sederet pertanyaan dan sebuah eksplorasi yang tak sudah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong>Muhammad Chatib Basri </strong>Majalah Tempo, Senin 4 Agustus 2008</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=47&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/08/06/sjahrir-obituari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan Pak !</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/08/01/selamat-jalan-pak/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/08/01/selamat-jalan-pak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 15:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan semua yang telah mengucapkan rasa simpati atas berpulangnya Dr. Syahrir pada hari Senin 28 Juli 2008. Semoga beliau diterima disisiNya dan kita semua dapat melanjutkan apa yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh Dr. Syahrir yaitu mendambakan INDONESIA BARU yang adil, majemuk dan demokratis. Tulisan-tulisan beliau bisa dibaca di Catatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=45&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 355px"><img src="http://img134.imageshack.us/img134/2434/selamatjalanya2.jpg" alt=" " width="345" height="390" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan semua yang telah mengucapkan rasa simpati atas berpulangnya Dr. Syahrir pada hari Senin 28 Juli 2008. Semoga beliau diterima disisiNya dan kita semua dapat melanjutkan apa yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh Dr. Syahrir yaitu mendambakan INDONESIA BARU yang adil, majemuk dan demokratis.</p>
<p>Tulisan-tulisan beliau bisa dibaca di Catatan Syahrir kedepan kami akan melengkapi tulisan-tulisan dan buah pikirian beliau agar website/blog ini bisa menjadi salah satu perpustakaan online seperti apa yang beliau impikan selama ini.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>&#8220;Daripada sibuk mengutuk kegelapan, lebih baik mulai menyalakan lilin&#8221;</strong></p>
<p>semoga kami semua bisa lebih banyak menyalakan lilin</p>
<p>Selamat Jalan Pak !</p>
<p><em>WARROOM</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=45&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/08/01/selamat-jalan-pak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img134.imageshack.us/img134/2434/selamatjalanya2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zul: Calon pengganti Menko Perekonomian harus tegas</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/21/zul-calon-pengganti-menko-perekonomian-harus-tegas/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/21/zul-calon-pengganti-menko-perekonomian-harus-tegas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 10:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Zulkieflimansyah, anggota DPR dari Fraksi PKS, orang yang patut menggantikan Menko Perekonomian, adalah sesorang yang memiliki ketegasan dan vitalitas untuk menjadi koordinator. Prof. Irsan Tanjung dinilai kurang tepat untuk menggantikan posisi Boediono sebagai Menko Perekonomian yang baru. &#8220;Saya tidak setuju kalau Menko Perekonomian itu Prof. Irsan Tanjung. Beliau itu dosen saya di FEUI, dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=42&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut Zulkieflimansyah, anggota DPR dari Fraksi PKS, orang yang patut menggantikan Menko Perekonomian, adalah sesorang yang memiliki ketegasan dan vitalitas untuk menjadi koordinator. Prof. Irsan Tanjung dinilai kurang tepat untuk menggantikan posisi Boediono sebagai Menko Perekonomian yang baru. &#8220;Saya tidak setuju kalau Menko Perekonomian itu Prof. Irsan Tanjung. Beliau itu dosen saya di FEUI, dengan segala hormat beliau lebih baik tetap saja menjadi Dubes RI di Filipina. Kita butuh Menko Perekonomian yang memiliki ketegasan dan vitalitas untuk menjadi koordinator,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dia merekomendasikan pengganti Boediono adalah Fahmi Idris atau Purnomo Yusgiantoro. Kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa berat melepas kedua menterinya itu, bisa mengangkat Penasihat Ekonomi Sjahrir.</p>
<p>&#8220;Sjahrir saya kira memiliki kapasitas, senior, dan dihormati lembaga-lembaga internasional, disamping juga punya leadership.&#8221;</p>
<p>dikuti dari bisnis.com</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=42&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/21/zul-calon-pengganti-menko-perekonomian-harus-tegas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Semua Ada pada Boediono&#8221;</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/21/semua-ada-pada-boediono/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/21/semua-ada-pada-boediono/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 08:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Persoalan apa saja yang akan dihadapi Boediono jika terpilih jadi Gubernur BI? Pemerintah harus merelakan seorang Boediono berada di BI. Pemerintah harus mencegah inflasi. Kita harus mencegah jangan samapi portfolio ekonomi negara ini rusak. Portfolio itu bukan hanya di pasar saham, juga di pasar obligasi. Pasar saham kita adalah pasar yang dikontrol oleh banyak pihak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=41&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;">Persoalan apa saja yang akan dihadapi Boediono jika terpilih jadi Gubernur BI?</span></strong><strong><br />
</strong><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;">Pemerintah harus merelakan seorang Boediono berada di BI. Pemerintah harus mencegah inflasi. Kita harus mencegah jangan samapi portfolio ekonomi negara ini rusak. Portfolio itu bukan hanya di pasar saham, juga di pasar obligasi. Pasar saham kita adalah pasar yang dikontrol oleh banyak pihak asing. Peran asing di pasar obligasi juga semakin besar.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;">Bagaimana dengan krisis di Amerika?</span></strong></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;">Memang, perekonomian Amerika Serikat sedang bermasalah. Bergejolaknya perekonomian AS akibat krisis <em>sub-prime mortgage, </em>ikut mendorong hancurnya keseluruhan kredit <em>market</em>. Dan itu, mau tidak mau, memiliki efek yang luar biasa terhadap perekonomian Indonesia. Saat ini harga pangan dan energi dunia terus naik. Itu adalah masalah besar lainnya yang saat ini sedang dihadapi bangsa kita.</span><br />
<span id="more-41"></span><br />
<span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;"><strong>Apa yang membuat anda yakin Boediono pantas menduduki kursi gubernur BI? </strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;">Resistensi Boediono di pasar rendah. Sekarang ini Indonesia sedang berhadapan dengan situasi eksternal, di saat kita sama sekali tidak memiliki peran di sana, tapi harus bisa menghadapi persoalan tersebut. Dan itu bukan perkara mudah untuk mengatasinya&#8230;</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;"><strong>Lalu bagaimana soal kapabilitasnya?</strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;">Boediono itu PhD lulusan dari Wharton School, Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat. Siapa orang yang seperti dia? Di negeri ini, lulusan dari Wharton School itu hitungannya jari. Bahkan menurut saya, dilihat dari sisi teknokrat yang ada di Indonesia, dia yang paling kuat <em>background</em> ekonominya. Jadi, apa lagi alasannya? Pendidikan oke, latar belakang birokrasi beliau juga bagus. Dia pernah menjabat sebagai Direktur BI, Kepala Bappenas, Menteri Keuangan dan sekarang Menteri perekonomian. </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;"><strong>Ada yang bilang, lebih baik gubernur itu dari internal BI?</strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;">Saya ingin bertanya, apakah Burhanuddin Abdullah ketika menjadi Gubernur BI berasal dari internal BI? Tidak. Lalu, apakah Miranda Goeltom juga dari internal BI? Juga tidak. Dia sudah keluar dari BI. Adrianus Mooy atau Soedrajad Djiwandono yang pernah menjabat Gubernur BI, bukan pula dari internal BI.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;"><strong>Kalau Boediono terpilih jadi Gubernur BI, siapa yang layak untuk memegang posisi Menko Perekonomian?</strong> </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;">Kalu itu urusan presiden. Saya tidak mau berkomentar. Sebab, sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, saya bekerja dibatasi oleh undang-undang. Jadi, saya tidak bisa sembarangan memberi komentar ke publik. Ide persoalan ekonomi yang saya usulkan ke presiden pun tidak boleh dibicarakan ke publik, termasuk anggota DPR.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial Unicode MS;"><strong>Nama anda disebut-sebut sebagai pengganti Boediono?</strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial Unicode MS;">Saya sudah katakan, saya bekerja dibatasi oleh Undang-Undang Dewan Pertimbangan Presiden. Jangankan memberi komentar soal diri saya, mengomentari orang lain saja tidak boleh. Jadi, sekali lagi, saya tidak bisa berkomentar soal itu. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> (sumber: Trust, No.24 Tahun vi, 7-13 April 2008)</span></span></span></p>
<p> </p></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=41&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/21/semua-ada-pada-boediono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syahrir: Presiden Oke Tapi Ekonomi Tetap Payah</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/syahrir-presiden-oke-tapi-ekonomi-tetap-payah/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/syahrir-presiden-oke-tapi-ekonomi-tetap-payah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 08:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Perspektif Wimar 10 April 2008 Syahrir: Pemerintah Telah Berkorban Dengan Mencalonkan Boediono Ngomongin masalah ekonomi emang nggak ada habisnya. Mulai dari ribut soal Gubernur BI sampai krisis ketahanan pangan. Perspektif Wimar edisi ini mencoba menghadirkan perspektif dari sudut pandang anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Dr. Syahrir yang kali ini ditemani Agni Pratista sebagai co host. Masalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=40&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Perspektif Wimar<br />
10 April 2008</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2239/2401524173_bd25fd84b3.jpg" alt="" width="263" height="197" /></p>
<p>Syahrir: Pemerintah Telah Berkorban Dengan Mencalonkan Boediono</p>
<p style="text-align:justify;">Ngomongin masalah ekonomi emang nggak ada habisnya. Mulai dari ribut soal Gubernur BI sampai krisis ketahanan pangan. Perspektif Wimar edisi ini mencoba menghadirkan perspektif dari sudut pandang anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Dr. Syahrir yang kali ini ditemani Agni Pratista sebagai co host. Masalah pencalonan Gubernur BI menjadi topik pembuka kali ini. Menurut Syahrir, dengan pencalonan Boediono sebagai Gubernur BI, sebenarnya pemerintah telah berkorban besar. Karena Boediono sangat dibutuhkan di kabinet. (iya pak, tapi juga sangat dibutuhkan oleh bank sentral). Berlarutnya pencalonan yang belum pernah tejadi sebelumnya ini , dikarenakan sekarang kita menghadapi situasi baru dimana parlemen begitu kuatnya.</p>
<p><span id="more-40"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai perannya sebagai penasehat presiden bidang ekonomi , Doktor lulusan Harvard University ini bercerita tentang peran lembaganya yang bukan seperti DPA di masa lalu. Wantimpres adalah bagian dari eksekutif yang memberikan policy insiative dan rekomendasi hanya untuk presiden. ”Jadi pekerjaannya sangat konkret”, ujarnya. Bagus dong pak biar nggak kaya DPA yang jadi ’macan ompong’ selama orde baru, karena presidenya tidak mau dinasihatin.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun begitu peran anggota wantimpres di bidang komunkasi publik juga terbatas. Misalnya tidak boleh datang ke DPR mewakili presiden/pemerintah dan juga tidak boleh mengkomunikasikan kepada publik apa isi pertimbangan kepada presiden atau kebijakan presiden yang tdak disetujui.</p>
<p style="text-align:justify;">WW juga bertanya tentang krisis pangan dunia yang menurut Dr. H.S Dillon disebabkan karena kurangnya keberpihakan. Syahrir berpendapat bahwa krisis pangan juga disebabkan oleh perubahan energi alternatif (seperti ethanol, singkong, kelapa sawit dll) yang berpengaruh terhadap produk pangan. Jadi orang akan semakin banyak mencari energi altrnatif dari bahan komoditi pangan, yang membuat harga komoditi tersebut bisa terus merangkak naik.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2182/2402341478_9b581cc615.jpg" alt="" width="371" height="278" /></p>
<p style="text-align:justify;">Memang jadi serba sulit, kalau pakai bahan bakar fosil takutnya cepat habis dan menimbulkan efek buruk pada lingkungan. Sementara enregi alternatif bisa berpengaruh pada mahal dan makin langkanya produk pangan. ”jangan sampai kita ada listrik, tapi nggak ada makanan”, ujar WW.( http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=838)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><!--[endif]--></span></p>
<p><em>Foto by http://www.perspektif.net</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=40&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/syahrir-presiden-oke-tapi-ekonomi-tetap-payah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2239/2401524173_bd25fd84b3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2182/2402341478_9b581cc615.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menghadapi 2009!!</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/menghadapi-2009/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/menghadapi-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 05:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana layaknya sebuah negara demokrasi yang berfungsi, kita semua mengenal tahun-tahun yang sangat penting secara politik. AS mengenal 2008 sebagai tahun pemilihan Presiden dan juga pemilihan sebagian anggota-anggota kongres dan senat. Kita memiliki 2009 karena di tahun itu, akan ada pemilihan Presiden, anggota-anggota DPR RI, anggota-anggota DPRD Provinsi dan anggota-anggota DPRD Kabupaten dan Kotamadya. Juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=39&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Sebagaimana layaknya sebuah negara demokrasi yang berfungsi, kita semua mengenal tahun-tahun yang sangat penting secara politik. AS mengenal 2008 sebagai tahun pemilihan Presiden dan juga pemilihan sebagian anggota-anggota kongres dan senat. Kita memiliki 2009 karena di tahun itu, akan ada pemilihan Presiden, anggota-anggota DPR RI, anggota-anggota DPRD Provinsi dan anggota-anggota DPRD Kabupaten dan Kotamadya. Juga ada pemilihan anggota DPD yang mewakili kepentingan provinsi-provinsi.</p>
<div align="justify">Demikianlah suasana 2009 semakin merebak dengan pencalonandiri menjadi Presiden yang diajukan oleh Sutiyoso, mantan Gubernur DKI, dan gerak lincah “jalan baru” yang dimotori Rizal Ramli. Kemunculan kedua tokoh tersebut amat menarik karena itu membuka aroma lain bagi pemilu 2009. Bilamana pada pemilu 2004, satu-satunya jalan bagi aspiran-aspiran Presiden adalah membentuk partai baru atau memenangkan dukungan dari partai-partai yang lama, maka pencalonan Sutiyoso dan inisiatif Rizal Ramli tidak demikian. Yang sama dengan 2004 adalah aktivitas Wiranto yang membentuk Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). .</p>
<p><span id="more-39"></span></p>
<div align="justify">Apa yang menarik dari fenomena baru itu? Bagaimana menyiasati fenomena tersebut secara tepat sasaran? Ini merupakan a sixty four million dollar question. Barangkali yang penting untuk disadari bahwa situasi kondisi politik dan ekonomi terkadang pergi ke arah yang amat mengejutkan. Di sini pula kita harus dobel hati-hati dalam menyikapi polling yang tampaknya sudah menjadi trademark aktivitas politik yang niscaya. .</p>
<div align="justify">Pengalaman George Bush senior amat menarik. Satu tahun menjelang pemilihan Presiden 1992, ia berada on top. Ia telah berhasil memukul Irak yang saat itu “berani-beraninya” menyerbu Kuwait dan Saudi Arabia. Saat itu semua orang berpendapat bahwa dipilihnya George Bush senior sebagai Presiden adalah sesuatu yang inevitable atau tak terelakkan. Seorang Gubernur dari negara bagian Arkansas bernama Bill Clinton sama sekali tidak dihitung. Namun sejarah menunjukkan bahwa hal yang niscaya atau tak terelakkan itu ternyata tidak terjadi. William Jefferson Clinton Jr. menjadi Presiden AS dalam usia 46 tahun. Apa artinya? Inilah yang dengan sangat lugasnya menjadi motto kampanye Bill Clinton, yaitu: “it’s the economy, stupid!”. Begitulah kita selayaknya menyikapibberbagai polling yang kini merebak tergantung dari lembaga apa yang mengelola polling tersebut dan siapa pula yang mensponsorinya. .</p>
<div align="justify">Sebelum kita membahas soal bagaimana pemilihan umum 2009 akan dipengaruhi oleh pertimbangan kondisi ekonomi, ada hal-hal yang menarik dalam polling yang pantas dicatat. .</p>
<div align="justify">Pertama, jarang sekali pollster melaksanakan polling untuk melihat kekuatan calon secara one on one. Yang biasa dilakukan adalah menyebut berbagai nama dan responden memilih sebuah nama diantara berbagai nama tersebut. Yang juga terjadi adalah bahwa incumbent yaitu Presiden yang sedang bertugas dimonitor tingkat popularitasnya dari waktu ke waktu. Misalnya apakah popularitasnya pada tahun 2004 masih sama tingginya pada 2007 atau sudah berubah? Hal tersebut tentunya berguna, tetapi hanya pada batas-batas tertentu. Di AS misalnya, dikembangkan suatu opini dari lawan-lawan Hillary Clinton bilamana Hillary Clinton memenangkan pencalonan Partai Demokrat, ia tetap akan kalah dalam pemilu menghadapi lawan Partai Republik. Di pihak lain ada pendapat Barack Obama lebih mungkin menandingi calon Partai Republik, tetapi ia punya kesulitan besar untuk memenangkan pencalonan dari Partai Demokrat. Dinamika-dinamika tersebut bisa saja benar, tetapi bisa saja terjadi diantara pollster di AS adalah dihitungnya secara one on one “pertarungan” antara berbagai calon seperti Hillary melawan Rudy Guiliani atau Obama melawan Guiliani. Bahwa nantinya belum tentu calon Partai Republik itu adalah dari mantan Walikota New York, itu tidak menjadi soal. Saya perkirakan pollster kita di masa datang akan semakin memperhitungkan monitoring one on one yang akan terjadi pada pemilihan Presiden putaran kedua. Tentunya ini menjadi “general wisdom” karena dengan sistem kepartaian yang ada sekarang, amat sulit memperoleh 50% lebih suara pada putaran pertama, betapapun populernya seorang incumbent. Inipun bisa salah, dan bisa saja incumbent langsung menang pada putaran pertama. Kenapa bisa? It’s the economy, stupid!. .</p>
<div align="justify">Saatnya kini kita membahas ekonomi. Adalah amat absurd bila calon-calon Presiden berbicara tentang angka pertumbuhan sebagai “harga mati” bagi terpilih atau tidaknya seorang Presiden. Di sinilah kita harus berhati-hati melihat suatu penilaian yang statis dan membandingkannya dengan penilaian yang dinamis. Penilaian statis hanya memperhitungkan tingkat ekonomi 2008 misalnya, sebagai tolok ukur bahwa di tahun 2009 orang akan memilih atau tidak memilih Presiden SBY. Artinya bilamana angka pertumbuhan ekonomi 2008 mencapai 7%, maka SBY akan terpilih kembali. Sementara bila angka pertumbuhan di bawah 6% atau hanya 5,5%, maka Presiden SBY bisa dikalahkan. Teringat kita di masa-masa kampanye 2003, ketika berbagai macam proyek-proyek APBN dikumandangkan oleh Presiden Megawati saat itu untuk menekankan betapa pentingnya dan berhasilnya beliau memimpin negara. Yang sulit dihadapi Megawati saat itu bahwa sebagai hasil ia memimpin hampir tiga tahun, rakyat memandang perlu ada perubahan. Bagaimana mengkuantifikasi itu? Amat sulit. Bisakah kuantifikasi menolong kita dalam mencoba mencari apa perasaan dan pandangan rakyat saat menjelang pemilu? Tentu saja dapat. Tetapi nilainya amat terbatas. .</p>
<div align="justify">Kenapa demikian? Karena jangan sekali-kali kita salah dalam menilai apakah rakyat menghendaki perubahan itu datangnya penilaian sebenarnya bukan dari rakyat. Di sini polling bisa menolong untuk mengkuantifikasi perubahan dari satu periode ke periode berikutnya. Tetapi ini hanya berguna bilamana pengelolaan polling memang dimaksudkan untuk mendapatkan pulse atau degup jantung rakyat menjelang pemilihan umum 2009. Dua fenomena yaitu pencalonan sebagai calon Presiden oleh mantan Gubernur Sutiyoso dan jalan baru yang ditawarkan oleh Rizal Ramli, ekonom, merupakan contoh-contoh yang menarik. Pada dataran elit, jelas sekali ada reaksi yang amat kental dengan suasana keinginan akan adanya perubahan. Ini nampak dari berita-berita yang muncul di mass media, apakah itu surat kabar, majalah dan berbagai penerbitan media internet seperti detik.com. Tetapi bagaimana dengan rakyat?. Bagaimana dengan mayoritas dari bangsa ini? Inilah hal besar yang harus dimonitor secara cermat, tepat, dengan siasat pemenangan yang muncul dari penasehat-penasehat para calon-calon peserta pemilihan Presiden. Tetapi bagaimana secara tepat kita bisa mengukur bahwa secara ekonomis pemerintahan itu berhasil? Di sini barangkali beberapa tolok ukur penting, pantas dicermati secara sungguh-sungguh. .</p>
<div align="justify">Pertama, adalah memahami tingkat, arah, dan penyebaran pertumbuhan ekonomi. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tidak tinggi, katakan 6% bisa saja dianggap sukses bilamana penyebaran pertumbuhannya menyentuh berbagai bidang dinamika kegiatan yang menimbulkan harapan pada jangka menengah mendatang. Orang sering bicara tentang UKM, koperasi, sektor informal sebagai indikator dari berlangsungnya penyebaran pertumbuhan yang menyentuh rakyat banyak. Di sinilah kita harus berhati-hati dalam melihat angka-angka statistik seperti tingkat pengangguran (unemployment) yang sesungguhnya tidak mempunyai nilai yang exact. Satu cara yang dapat dibuat adalah mengukur pendapatan per kapita dari sektor-sektor ekonomi dengan membandingkan share sektor sebagai persentase dari PDB dengan share sektor sebagai persentase dari total angkatan kerja. Kita tahu bahwa selama tiga tahun pemerintahan sekarang, peran daripada konsumsi masih merupakan peran yang terbesar dalam memberi kontribusi pada pertumbuhan. Beberapa tahun terakhir peran ekspor meningkat, tetapi bila ditelisik nilai ekspor itu sendiri, maka kenaikannya lebih karena meningkatnya produk ekspor kita seperti kelapa sawit dan batu bara. Dari sisi produksi dan diversifikasi produksi, belum terjadi perubahan struktural yang berarti di dalam struktur ekspor kita. Yang mengesankan adalah bertahannya ekspor tekstil yang menyerap cukup banyak tenaga kerja, kendati menghadapi persaingan global yang datang dari”raksasa-raksasa baru” seperti Cina. .</p>
<div align="justify">Dengan memahami bahwa belum terjadi suatu perubahan signifikan dari sumber pertumbuhan (source of growth) seperti layaknya terjadi, yaitu investasi, maka kondisi perekonomian selama 3 tahun praktis belum berubah secara struktural. .</p>
<div align="justify">Dilihat dari penyebaran pertumbuhan, belum juga terjadi suatu tingkatan dimana berlangsungnya penurunan secara signifikan dari pengangguran terbuka. Ini menunjukkan stickiness dari orang yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan hingga sekarang. Semua angka di atas 8% bagi pengangguran terbuka tetap merupakan angka yang buruk. Bagaimana mengubah keadaan tersebut menjadi 8% merupakan tantangan yang tidak kalah pentingnya dan tidak kalah sulitnya dibandingkan mencapai pertumbuhan ekonomi setinggi 7%..</p>
<div align="justify">Di sinilah pantas ditelaah seberapa jauh distorsi ekonomi berlangsung dari kebijakan ekonomi yang dibuat pemerintah. Aturan-aturan tentang ketenagakerjaan yang tidak kondusif bagi investor hingga kini masih belum berubah. Bahwa investasi yang muncul dari modal portofolio juga masih menjadi ciri dinamika ekonomi kita. Dahsyatnya IHSG sama sekali tidak sejalan dengan bertambahnya jumlah emiten yang mendaftar di BEJ. Jumlah investor tidak bertambah secara berarti dengan peran investor asing masih sangat besar. Bagaimana hal ini nantinya dirasakan oleh publik sebagai hal-hal yang membuat mereka membutuhkan “perubahan”, merupakan kunci untuk menjawab bagaimana pemilihan umum 2009 akan berlangsung. .</p>
<p>Syahrir Research, Oktober 2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=39&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/menghadapi-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Momok Inflasi Memang Seram</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/momok-inflasi-memang-seram/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/momok-inflasi-memang-seram/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 05:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Perhitungan angka inflasi dari Oktober 2007 hingga akhir Oktober 2006 adalah 6,88%, sedangkan pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu yang sama 6,5%. Dari angka-angka ini target pertumbuhan ekonomi 6,3% agaknya bisa terjadi. Sementara target inflasi yang tidak terlalu eksak karena bersifat jarak satu persen ke atas dan ke bawah dari 6% (5%-7%) tampaknya juga akan terpenuhi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=38&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Perhitungan angka inflasi dari Oktober 2007 hingga akhir Oktober 2006 adalah 6,88%, sedangkan pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu yang sama 6,5%. Dari angka-angka ini target pertumbuhan ekonomi 6,3% agaknya bisa terjadi. Sementara target inflasi yang tidak terlalu eksak karena bersifat jarak satu persen ke atas dan ke bawah dari 6% (5%-7%) tampaknya juga akan terpenuhi saking fleksibelnya target tersebut.</p>
<p align="justify">Bilamana angka pertumbuhan terlampaui sekalipun, dapat dilihat dari penyebaran (spread) dan struktur pertumbuhan, akibat tersebut tidaklah terlalu menimbulkan perbaikan nyata bagi kehidupan kaum miskin. Sebaliknya bilamana inflasi lebih buruk dari target, ataupun mencapai target, katakanlah di bawah 7%, angka ini akan lebih-lebih terasa bagi kelompok miskin dan kaum yang berpendapatan tetap yang sebagian besar masih merupakan kelompok menengah ke bawah.</p>
<p align="justify">Dalam konteks demikian, kita harus menyikapi pendalaman kita tentang tingkat kenaikan harga atau inflasi. Kenaikan harga langsung mempengaruhi daya beli, ketentraman hidup, bahkan “survival” unit masyarakat terkecil yaitu rumah tangga. Bahkan kendati core inflation dapat dikendalikan misalnya, tapi kalau barang yang memiliki gejolak (volatility) menunjukkan kenaikan yang berarti maka akibatnya bisa amat mengkhawatirkan survival sebuah rumah tangga.</p>
<p><span id="more-38"></span></p>
<p align="justify">Misalnya, bagaimana kita menyikapi kenaikan harga minyak goreng, minyak tanah, gula pasir, dan beras? Bagi sebagian elit barangkali total pengeluaran dalam rumah tangga atas barang-barang tersebut amatlah kecilnya sehingga irrelevant membicarakan kenaikan harga komoditi-komoditi tersebut. Tidak kalah popular dari teori Marx dan Engels adalah Engel’s Law yang berasal dari seorang yang bernama Engel yang lain. Ia membuktikan bahwa semakin tinggi penghasilan seseorang maka semakin sedikit konsumsi bagi kebutuhan akan makanan mereka. Hal yang begitu logis dan sederhana ternyata cukup serius ditanggapi para ekonom seperti Jan Tinbergen (pemenang hadiah Nobel) hingga Hendrik Houthakker, yang kemudian secara ekonometris betapa benarnya Engels Law tersebut. Apa maknanya bagi kita yang sedang bereformasi dan menggalakkan ekonomi daerah? Apa artinya Engel’s Law itu dilihat dari disiplin fiskal yang seharusnya menuntun pemerintah yang pro-rakyat dan pro-pemberantasan kemiskinan? Di sini kita bicara tentang perlunya meniadakan distorsi ekonomi dalam kebijaksanaan ekonomi. Distorsi ekonomi itu menyangkut distorsi di kebijakan fiskal ataupun distorsi di kebijakan moneter.</p>
<p align="justify">Di kebijakan fiskal misalnya, bilamana ada kebijakan mengurangi kewajiban pajak para pembayar pajak dan bahkan memberikan subsidi bagi membeli komoditi yang bersifat non-rival, maka harus diyakini hal tersebut benar-benar bisa mencegah kenaikan harga. Di pihak lain, bilamana harga naik karena adanya harga internasional yang meningkat maka kebijakan yang tepat mungkin saja bukan berupa peniadaan kewajiban pajak maupun subsidi. Suatu peningkatan pungutan ekspor mempunyai kapasitas yang lebih kuat dalam memelihara harga di dalam negeri. Sementara itu dalam kebijaksanaan moneter, kita tahu bahwa peningkatan jumlah uang yang beredar yang tidak bisa diimbangi oleh arus dari barang dan jasa yang meningkat, akan menimbulkan kelangkaan barang dan dengan sendirinya kenaikan harga terjadi. Kita tahu bahwa dengan adanya Undang-Undang Bank Indonesia (BI), peran memelihara stabilitas harga ada pada BI. Tetapi karena pasal 4 UUD 1945 memberikan tanggung jawab dan wewenang penyelenggaraan pemerintahan kepada Presiden, harus menjadi jelas bahwa otonomi BI, juga otonomi daerah, tidaklah menyebabkan berlangsungnya otonomi kedua badan tersebut terhadap negara. Sementara penyelenggaraan negara dan kewajiban yang termaktub di dalamnya adalah wewenang Presiden Republik Indonesia.</p>
<p align="justify">Inflasi juga bisa terjadi pada kebijakan yang menyangkut penyediaan barang non-rival yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Membeli bensin di pompa bensin merupakan kerja konkrit di mana administered price secara mudah dilaksanakan. siapapun yang datang ke pompa bensin akan membeli bensin sesuai dengan harga yang ditetapkan. Di pihak lain, komoditi lain seperti minyak tanah memiliki karakteristik yang tidak se-mekanistis itu. Di dalam perdagangan minyak tanah ada berbagai macam pihak yang terlibat. Mulai tukang penjual dengan gerobak-gerobak hingga penjual minyak tanah kalengan dengan volume yang lebih kecil kesemuanya bertemu dengan pembeli yang karakteristiknya berbeda-beda dan kemampuan membeli yang berlainan pula. Selain itu bilamana bensin di pompa bensin sepenuhnya langsung dipakai untuk membuat mobil atau motor bekerja, maka minyak tanah bisa disebut memiliki multifungsi. Dari mulai fungsi untuk memasak hingga fungsi menjadi instrumen penerangan terjadi. Juga saling meminjamkan di antara tetangga sering terjadi pada kelompok-kelompok miskin. Bilamana ada kenaikan harga minyak tanah, entah karena “konversi” kepada gas tabung, efeknya pada tiap rumah tangga yang setia menggunakan minyak tanah akan sangat memukul bahkan mempengaruhi seluruh seluruh pola pengeluaran uang yang mereka miliki secara sangat terbatas.</p>
<p align="justify">Kita pernah memiliki inflasi yang luar biasa tingginya, hyper inflation, yang mencapai 65% di puncak kegawatan pada tahun 1965 ketika terjadi perubahan politik yang besar saat itu. Saat ini hal seperti itu amat boleh jadi tidak mungkin terjadi. Tetapi apakah karena itu keadaan ekonomi Indonesia dengan inflasi yang relatif rendah tersebut serta merta bisa disebut aman? Jawabannya adalah sebagai berikut:</p>
<p align="justify">Pertama-tama, inflasi pada tingkat 6 hingga 7 persen haruslah dibandingkan dengan inflasi negara-negara tetangga dan negara-negara industri yang ternyata tingkatannya jauh lebih rendah, di sekitar 2 hingga paling banyak 4,5 persen. Artinya pukulan inflasi yang dialami Indonesia memukul kaum miskin di Indonesia secara jauh lebih telak daripada kaum miskin di negara-negara maju atau industri maupun di negara-negara tetangga. Kini dengan suasana the world is flat permintaan inflasi yang demikian signifikan secara kasat mata dapat terlihat di seluruh dunia. Kita akan mengalami pukulan yang memiliki demonstration effect dari setiap upaya yang mempolitisasi kenaikan harga demi tujuan-tujuan politik yang berbeda-beda. Kinerja suatu pemerintahan yang bersih, bekerja keras, dan untuk batas-batas tertentu berhasil dalam meingkatkan pertumbuhan ekonomi dapat ditenggelamkan bilamana pemerintah bersangkutan gagal mencegah kenaikan harga.</p>
<p align="justify">Kedua, kalaupun core inflation (inflasi inti) dapat dicegah untuk naik, tetapi bilamana volatilitas harga yang sangat penting bagi rakyat terjadi, maka efek inflatoir bagi rakyat tidaklah sekecil dari angka inflasi resmi yang merupakan gabungan daripada inflasi inti, administered price, dan barang-barang yang memiliki gejolak (volatility) yang tinggi. Jadi, kalaupun inflasi kita disebut hanya “6,5%” sangat boleh jadi bagi kelompok rakyat miskin jumlah yang mendekati kenyataan barangkali mencapai 15 hingga 20%. Di dalam perekonomian yang bertumbuh di bawah 7% dimana pertumbuhan tersebut tidak mampu menyerap tenaga kerja baru yang masuk di pasar tenaga kerja, maka inflasi yang dipersepsikan tinggi bagi sebagian rakyat miskin, akan memukul ekonomi secara ganda (double blow effect). Dari sisi ini tidak salah bila dikatakan bahwa inflasi masih merupakan momok bagi rakyat.</p>
<p align="justify">Ketiga, bulan depan tahun 2008 telah tiba dan bisa diperkirakan bahwa setiap kebijakan ekonomi yang dibuat akan ditanggapi dengan sikap heavy politics attitude. Untuk bisa menghasilkan kebijakan yang tepat secara ekonomis akan tetap dicermati secara politis sehingga “biaya politik” untuk kebijakan-kebijakan yang perlu dilaksanakan menjadi mahal. Pengalaman terpenting dari upaya pemerintahan Presiden SBY dalam tiga tahun ini adalah betapa politik tidaklah mengenal belas kasihan. Dan belas kasihan itu semakin menghilang bilamana berlangsung kegagalan dalam mengendalikan harga.</p>
<p>Syahrir Research, November 2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=38&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/momok-inflasi-memang-seram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekonomi Portofolio dan Stabilitas Ekonomi Dunia</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/ekonomi-portofolio-dan-stabilitas-ekonomi-dunia/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/ekonomi-portofolio-dan-stabilitas-ekonomi-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 05:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia, sering membanggakan bahwa berbeda dengan krisis 1997-1998 posisi cadangan devisa jauh lebih besar dan jumlahnya konon mencapai 57 miliar US dollar. Saat krisis di akhir 1997 cadangan devisa hanya 21,4 miliar dollar AS dan di 1998 sebesar 23,8 miliar US dollar. Begitu juga tingkat inflasi sudah berada sedikit di atas enam persen dan stabilitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=37&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Indonesia, sering membanggakan bahwa berbeda dengan krisis 1997-1998 posisi cadangan devisa jauh lebih besar dan jumlahnya konon mencapai 57 miliar US dollar. Saat krisis di akhir 1997 cadangan devisa hanya 21,4 miliar dollar AS dan di 1998 sebesar 23,8 miliar US dollar. Begitu juga tingkat inflasi sudah berada sedikit di atas enam persen dan stabilitas nilai tukar relatif lebih terjaga terutama bila membandingkan nilai tukar itu semata-mata dengan Amerika Serikat. Hal ini berbeda di masa-masa krisis di mana rupiah pernah mencapai belasan ribu dan inflasi bergejolak dalam level double digit. Yang agak mengherankan adalah bahwa kendati nilai tukar US dollar melemah terhadap mata uang seperti dollar Singapura dan Yen Jepang tapi terhadap rupiah dollar AS itu tetap kuat dan kini berada di sekitar 9.300 hingga 9.500 rupiah/US dollar. Ini menunjukkan apa? Dan bagaimana kita menyikapi ekonomi portofolio Indonesia?</p>
<p style="text-align:justify;">Per akhir November 2007 Surat Utang Negara (SUN), termasuk ORI (Obligasi Republik Indonesia) mencapai 803,19 triliun rupiah sementara Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang lebih bersifat jangka pendek pada akhir November mencapai 219,7 triliun. Sementara itu saham-saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia mempunyai kapitalisasi pasar (dihitung dari harga saham dikalikan jumlah saham) sebesar 1.844 triliun rupiah per 24 Januari 2008. Peran asing di bursa efek cukup besar kalau tidak dikatakan dominan sementara kepemilikan asing pada SUN dan ORI serta SBI juga cukup berarti kendati tidak sebesar peranan di saham.</p>
<p><span id="more-37"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari angka-angka ekonomi portofolio Indonesia yang sebesar itu maka jelas sekali nilai cadangan devisa yang belum mencapai 60 miliar US dollar tidaklah terlalu mengesankan. Apalagi dibandingkan dengan cadangan devisa yang dimiliki China yang sebesar lebih dari satu triliun dollar dan cadangan devisa Jepang yang juga mendekati satu triliun dollar, serta kepemilikan China dan Jepang atas surat utang pemerintah AS yang total keduanya juga berada di atas satu triliun dollar. Tentu saja jumlah yang sebesar itu di China dan Jepang harus dibandingkan dengan kapitalisasi pasar di bursa-bursa negara tersebut yang jumlahnya jelas lebih besar pula dari kepemilikan cadangan devisa dan cadangan aset asing yang mereka punyai.</p>
<p style="text-align:justify;">Point yang mau dikatakan adalah stabilitas di dalam ekonomi portofolio adalah stabilitas yang dapat terguncang dengan mudah bilamana terjadi suasana panik sehingga berlangsung apa yang disebut panicked selling dan bilaman itu terjadi maka kehancuran bursa akan bergulir kepada stabilitas nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing. Indonesia sendiri memiliki sejarah yang tidak terlalu positif menyangkut stabilitas mata uang. Berkali-kali kurs kita digonjang-ganjing oleh berbagai isu dan kendati kita melaksanakan kebijaksanaan rezim nilai tukar free floating namun dalam kenyatannya tentunya pengertian free ini tidaklah bersifat absolut. Kita tahu bahwa berdasarkan Undang-undang Bank Sentral yang berlaku sekarang, tugas Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan stabilitas harga (pengendalian inflasi). Memang Bank Indonesia memiliki independensi yang tidak bersifat sama dengan masa-masa ketika di Indonesia berlaku sistem pengendalian oleh Dewan Moneter di mana Bank Indonesia hanyalah menjadi sekretaris pada Dewan Moneter itu, sementara ketuanya adalah Menteri Keuangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitupun, ada pendapat yang menyatakan bahwa kendati Indonesia secara de jure menganut rezim free floating exchange rate, tetapi sebenarnya saat sekarang secara de facto rezim managed floating exchange rate (disertasi doktor oleh Erna Zetha dengan judul “Pemilihan Rezim Nilai Tukar dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Perekonomian: Studi Kasus di Indonesia 1978-2006”) yang berlaku. Pertanyaan penting adalah bagaimana managed floating itu dilaksanakan dan apa teknik dan mekanisme kerja yang digunakan oleh Bank Indonesia? Dalam pengalaman penulis yang pernah mengurus sebuah money market brokerage sesungguhnya nilai tukar itu berubah-ubah oleh perdagangan mata uang yang relatif amat kecil, paling-paling beberapa ratus juta dollar dalam satu hari hingga penutupan perdagangan. Tetapi harga penutupan itulah yang digunakan dalam memperhitungkan berbagai macam indikator ekonomi penting seperti nilai tukar dollar terhadap rupiah ataupun kapitalisasi pasar saham dalam dollar.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, kurs kita sudah penuh spekulasi diantisipasi bilamana benar-benar resesi terealisir dan gonjang-ganjing bursa di AS mulai diikuti oleh indeks saham di Asia, termasuk saham di Bursa Efek Indonesia. Ada yang menyatakan bahwa kita harus mulai khawatir bilamana kurs mencapai 10.000 rupiah/US dollar. Kita tidak ingin menambah bensin pada spekulasi karena sesungguhnya seorang bijak pernah mengatakan ketika ditanya tentang bagaimana perkiraan tentang nilai tukar yang akan terjadi. Dia mengatakan bahwa nilai tukar yang terjadi adalah nilai tukar yang berlangsung pada hari itu ditanyakan. Dalam perkataan lain setiap spekulasi sesungguhnya penuh dengan ketidakpastian dan keragu-raguan yang tak pantas disodorkan pada publik ekonomi yang lebih luas.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi kembali kepada judul analisis ini yaitu “Ekonomi Portofolio dan Stabilitas Ekonomi Indonesia” apa implikasi dari uraian panjang yang ditulis hingga sekarang?</p>
<p style="text-align:left;">Pertama, investasi portofolio secara khusus dan ekonomi portofolio (artinya di sini sinergi investasi itu dengan ekonomi secara lebih menyeluruh) amat sulit ditebak bagaimana akibatnya secara eksak. Tetapi guncangan di Wall Street pasti punya pengaruh di Asia termasuk di Indonesia sehingga jika terjadi penurunan indeks Dow Jones maka penurunan yang sama diperkirakan terjadi di Bursa Efek Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, sepanjang gonjang-ganjing di bursa termasuk bilamana Fed menurunkan suku bunga pada tingkat yang amat rendah hingga misalnya, dua persen (ini menimbulkan persoalan tersendiri karena meningkatkan moral hazard yang berimplikasi bahwa pihak-pihak yang seharusnya “dihukum” akibat subprime credit akan “lolos” atau terselamatkan, sehingga menimbulkan ketidakpercayaan yang meluas pada pasar secara keseluruhan) masih berakibat pada bursa semata-mata, efek pada nilai tukar belum terjadi, maka kita harus menyikapinya dengan membandingkan selisih Fed rate dengan SBI rate. Bilamana jarak Fed rate terus membesar dengan SBI rate (tidak ada penurunan SBI rate ketika Fed rate turun 75 basis poin hingga sekarang) sementara rupiah tidak juga menguat secara berarti, maka di sini kewaspadaan harus digandakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga, andaikata nilai tukar rupiah secara signifikan memburuk, katakanlah menembus 10.000 rupiah/US dollar, maka efeknya pada ekonomi nasional juga akan terasa. Bukan saja pada semakin mahalnya barang impor (meskipun itu dikompensasi dengan tingginya nilai rupiah barang ekspor) tetapi juga efek pada ekspor kita pun akan dirasakan negatif, karena resesi di AS akan mengurangi kapasitas impor AS.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat, satu-satunya cara untuk mempertahankan ketahanan ekonomi (economic resilience) adalah dengan meniadakan kebijakan-kebijakan yang mengandung unsur distorsi. Ini mencakup kemungkinan inflasi yang disebabkan oleh policy induced distortion. Yang dimaksud di sini adalah setiap kebijakan yang tidak menimbulkan efisiensi di pasar dan sebagai gantinya muncul berbagai instrumen seperti pengambilalihan pajak utama nilai dan peningkatan subsidi. Kedua instrumen tersebut bekerja dengan cara semakin meningkatkan pengeluaran APBN seraya pada saat yang sama penerimaan APBN menjadi menurun. Ini membuat defisit anggaran semakin meningkat dan pada dirinya potensi inflasi meningkat pula.</p>
<p style="text-align:justify;">Stabilitas ekonomi nasional hanya dapat dilaksanakan bila efisiensi pasar juga meniadakan berbagai distorsi yang muncul, termasuk distorsi yang datang dari kebijakan yang kurang bijaksana.</p>
<p style="text-align:left;">Syahrir Research, Januari 2008</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=37&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/ekonomi-portofolio-dan-stabilitas-ekonomi-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahaya Mental Dirigista!!</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/bahaya-mental-dirigista/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/bahaya-mental-dirigista/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 04:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Mekanisme pasar sering dikutuk sebagai sumber kesengsaraan rakyat dan yang diuntungkan kabarnya adalah para kapitalis. Mekanisme pasar dianggap hanya mengembangkan filsafat survival of the fittest, sementara perlindungan terhadap rakyat menjadi dikesampingkan. Sebenarnya sebagian dari yang dinyatakan seperti di atas, ada mengandung isi kebenaran. Sebagian lagi bukan tidak mungkin muncul sebagai retorika yang mempunyai nada lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=36&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span>Mekanisme pasar sering dikutuk sebagai sumber kesengsaraan rakyat dan yang diuntungkan kabarnya adalah para kapitalis. Mekanisme pasar dianggap hanya mengembangkan filsafat survival of the fittest, sementara perlindungan terhadap rakyat menjadi dikesampingkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span>Sebenarnya sebagian dari yang dinyatakan seperti di atas, ada mengandung isi kebenaran. Sebagian lagi bukan tidak mungkin muncul sebagai retorika yang mempunyai nada lebih politik ketimbang kenyataan konkrit yang dirasakan rakyat. Kebenaran biasanya ada di tengah-tengah itu karena sejak awal ketika ada debat besar tentang sistem ekonomi mana yang benar, kita selalu diperhadapkan dengan dua sistem besar, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Secara teoritis hal ini telah diperdebatkan oleh raksasa ekonomi Oscar Lange di pihak sistem ekonomi sosialis dan Frederich Von Hayek di pihak sistem ekonomi kapitalis. Sama dengan diatas, kebenaran pun selalu ada di tengah dan karena itulah kita melihat “mixed economy” sebagai sistem yang dimiliki hampir semua nation state di abad ke-21 ini. Salah kita menyebut Singapura sebagai penganut sistem kapitalis, karena kita melupakan bahwa BUMN disana sungguh dominan sehingga Temasek amat ditakuti sementara itu adalah perusahaan negara. Tidak heran bahwa negara-negara kapitalis mulai keteter dan semakin memerlukan “sovereign wealth fund” yang bersumber pada akumulasi kapital dari negara seperti Singapura, dan negara-negara Timur tengah.</span></p>
<p><span id="more-36"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span>Bagaimana dengan Indonesia? Sungguh mengagumkan ketika kita menyaksikan peristiwa meninggalnya mantan Presiden Soeharto di mana praktis berbagai media cetak dan elektronik tidak habis-habisnya memberitakan persitiwa dari sejak sakitnya, hingga meninggal dan upacara pemakamannya, sampai kepada setelah pemakaman berlangsung. Tidak bisa tidak, kita harus berkesimpulan besarnya peran kapital atau modal dalam menguatnya persepsi Presiden Soeharto yang mendominasi pemberitaan mass media. Disini kita bisa katakan bahwa sejak Presiden Soeharto lengser di tahun 1998, sepuluh tahun berikutnya tidaklah terjadi pengurangan akumulasi modal dari lingkungan yang dikenal sebagai kroni ataupun keluarga mantan presiden tersebut. Bagaimana dengan negara? Hingga kini APBN tetap harus membayar bunga dari rekapitalisasi perbankan, dan itu sungguh membatasi sekali kapasitas negara dalam meningkatkan pengeluaran yang dibutuhkan bagi pertumbuhan perekonomian. Memang benar bahwa konsumsi pemerintah cukup signifikan, tetapi bilamana konsumsi sebagai sumber pertumbuhan dipertitungkan, maka bagian terbesar konsumsi tersebut adalah konsumsi masyarakat. Bagaimana kita meneliti faktor akumulasi modal serta sumber (sources of growth) ini dengan kebijaksanaan yang kini dianut Presiden SBY dan kabinetnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span>Pertama-tama, siapapun sulit membantah bahwa tahun 2007 untuk pertama kali setelah krisis yang begitu memporak-porandakan ekonomi, kita mengalami pertumbuhan 6,32 persen dan itu merupakan prestasi tersendiri. Di sini ada beberapa catatan yang harus kita perhitungkan mengingat adanya kenaikan harga ganda secara inernasional yaitu kenaikan harga pangan dan kenaikan harga minyak dan energi. Dua bulan pertama ada tanda-tanda yang cukup mengkhawatirkan bahwa kita agak “grogi” atas berlangsungnya inflasi yang terhitung tinggi selama 2008 yang baru berjalan dua bulan. Di sini kita melihat perlunya kita memahami masalah pangan dan kebutuhan pokok secara kasus demi kasus. Pada ekstrim yang satu kita melihat gerak tepung terigu yang amat diperlukan untuk memproduksi mie dan roti-rotian. Pada ekstrim yang lain kita melihat minyak goreng yang dibutuhkan oleh seluruh dunia dan di mana Indonesia berada pada posisi negara produsen nomor satu di dunia. Sementara tanah nusantara kita ini tidak menghasilkan tepung terigu yang berasal dari gandum. Disinilah kita harus melihat hubungan antara produksi dan konsumsi serta kaitannya dengan ekspor dan impor beserta perbedaan yang mungkin ada antara harga internasional dengan harga di dalam negeri. Menarik bahwa kedua komoditas itu diperlakukan secara agak sama dalam kebijaksanaan ekonomi. Bilamana sebagai negara produsen nomor satu kita ingin harga dalam negeri stabil, maka tentu kita harus mengenakan pungutan ekspor. Setuju. Bilamana sebagai negara konsumen tepung terigu kita sama sekali tidak bisa memproduksi gandum dan tepung terigu, maka kita harus mengurangi pungutan impor bahkan menghapuskan sama sekali bila ingin harga dalam negeri tidak tinggi. Itupun kita setuju. Tetapi dimana nalar bahwa kita (negara) harus mengambil alih Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari proses produksi yang pada ujungnya menghasilkan minyak goreng curah dan tepung terigu, sehingga harga diharapkan turun? Atau, bisakah subsidi yang diberikan dalam jumlah beratus-ratus miliar menurunkan harga minyak goreng dan tepung terigu? Jelas disini jawabannya adalah tidak, karena harga tidaklah berubah hanya rakyat yang “kebagian” subsidi diuntungkan dibandingkan rakyat yang pasti cukup banyak yang tidak mendapatkan subsidi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span>Kita juga bisa melihat bahwa dalam dua bulan pertama tahun 2008 ini, tampak bahwa harga minyak goreng curah, minyak goreng kemasan, dan minyak goreng secara umum, semuanya tetap naik hingga akhir bulan Februari. Idem ditto dengan harga tepung terigu. Kita melihat misalnya bahwa perusahaan yang memiliki kapasitas pabrik yang besar untuk memproses gandum menjadi tepung terigu juga diuntungkan karena tidak perlu membayar PPN itu. Disini kita kontraskan dengan rencana pemerintah untuk mengenakan PPN bagi pengguna jasa listrik. Yang pertama menguntungkan kekuatan ekonomi yang telah berakumulasi secara terus menerus, dan yang kedua adalah rumah tangga yang harus membayar pajak yang merupakan kenaikan harga terselubung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span>Mental dirigista juga tampak pada rencana distribusi bensin premium yang kabarnya akan menggunakan instrumen “smart card” dimana untuk beberapa liter bensin premium digunakan harga lama, untuk selanjutnya digunakan harga “pasar”. Bilamana ini mencakup pemilik mobil saja, sudah bicara kita tentang berjuta-juta mobil , truk dan bis. Pengguna motor yang jumlahnya puluhan juta bila dikenakan smart card merupakan persoalan “bureaucratic headache” yang amat besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span>Belum lagi pandangan publik yang semakin cerdas yang mempersoalkan siapakah gerangan yang mendapatkan hak menjadi importir tabung gas (dalam rencana konversi minyak tanah ke tabung gas), kita berhadapan dengan potensi conflict of interest yang tinggi. Hal yang sama juga bisa ditanya pada siapakah gerangan yang mendapatkan kontrak smart card, dimana subkontrak saja meliputi order yang lebih dari lumayan? Ini semua menimbulkan pertanyaan klasik tentang who gets what?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span>Mental dirigista pada mulanya bisa saja merupakan sesuatu yang bersumber dari niat baik. Bahkan aplikasi mental dirigista pada pemberian bantuan tunai langsung (setelah kenaikan harga BBM akhir 2005) dinilai sebagai hasil yang relatif positif. Tetapi bilamana pada kasus-kasus tertentu ada pihak-pihak yang diuntungkan secara massif, maka kecurigaan publik tentunya mencuat tinggi. Ketika ada bantuan tunai langsung kita melihat aplikasinya paling-paling diselewengkan pada level daerah, apakah kabupaten, kecamatan bahkan desa. Tetapi bilamana mental dirigista yang ada dianggap menguntungkan “oknum” pada tingkat pusat maka “policy implementation” bisa saja mengalami kegagalan.</span></p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=36&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/10/bahaya-mental-dirigista/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Tepat, Kalla Rangkap Jabatan Menko Perekonomian</title>
		<link>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/05/tak-tepat-kalla-rangkap-jabatan-menko-perekonomian/</link>
		<comments>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/05/tak-tepat-kalla-rangkap-jabatan-menko-perekonomian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 13:11:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahrir</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansyahrir.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, menilai dukungan Partai Golkar agar jabatan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian dirangkap Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak tepat. Sebab Kalla yang juga seorang pengusaha dikhawatirkan bias kepentingan dengan rangkap jabatan itu. Faisal juga tidak setuju dengan wacana jabatan Menteri Koordinator Perekonomian dirangkap Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Sebab pekerjaan Sri Mulyani sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=35&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignjustify" style="float:left;" src="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/f/faisal-basri/faisal_basri.jpg" alt="" width="71" height="98" />Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, menilai dukungan Partai Golkar agar jabatan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian dirangkap Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak tepat. Sebab Kalla yang juga seorang pengusaha dikhawatirkan bias kepentingan dengan rangkap jabatan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Faisal juga tidak setuju dengan wacana jabatan Menteri Koordinator Perekonomian dirangkap Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Sebab pekerjaan Sri Mulyani sudah teramat berat mengurusi penerimaan negara dan membagi-bagikan dana belanja negara.<br />
<span id="more-35"></span><br />
Sementara figur lain yang disebut-sebut, seperti Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, Kuntoro Mangkusubroto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro juga dinilai kurang pas. &#8220;Mereka sebaiknya berkonsentrasi dengan pekerjaannya masing-masing.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Faisal menyarankan jabatan Menteri Koordinator Perekonomian dikosongkan. Toh selama ini jabatan itu hanyalah kuasi kabinet yang tidak diperlukan. Fungsi koordinasi bisa diambil alih presiden. Namun bila tetap diperlukan, presiden menyerahkan kepada orang kepercayaannya yang bisa diandalkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Faisal merekomendasikan </strong><strong>Dr. Syahrir yang saat ini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Ekonomi sebagai Menteri Koordinator Perekonomian. Sebab, Syahrir adalah sosok ekonom yang disegani, tegas, berani dan mengarahkan para menteri ekonomi. Syahrir juga bukan orang partai politik.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketika dimintai komentar, Syahrir mengaku tak tahu jika dirinya disebut-sebut diusulkan menggantikan Boediono. Ia juga tak mengetahui soal proses pemilihan calon pengganti Menteri Koordinator Perekonomian, Sebab, Dewan Pertimbangan Presiden tak dimintai masukan.&#8221;Semua itu hak prerogatif Presiden,&#8221; katanya. (Koran Tempo, 5/04/08)</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catatansyahrir.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catatansyahrir.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catatansyahrir.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catatansyahrir.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catatansyahrir.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catatansyahrir.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catatansyahrir.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catatansyahrir.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catatansyahrir.wordpress.com&amp;blog=2752501&amp;post=35&amp;subd=catatansyahrir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatansyahrir.wordpress.com/2008/04/05/tak-tepat-kalla-rangkap-jabatan-menko-perekonomian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4c04375a2d9a8f61c8b0fc011efc69c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">syahrir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/f/faisal-basri/faisal_basri.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
